Beranda Budaya Tradisi Suro di Tambakrejo Tetap Lestari, Pagelaran Wayang Kulit Jadi Pembuka Larung...

Tradisi Suro di Tambakrejo Tetap Lestari, Pagelaran Wayang Kulit Jadi Pembuka Larung Sesaji

BLITAR, JAWA TIMUR || Lingkaraktual.com || — Pemerintah Desa Tambakrejo, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar, menggelar rangkaian peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram atau 1 Suro dengan menyelenggarakan pagelaran Wayang Kulit (Ringgit Wacucal), Rabu (17/6/2026). Kegiatan yang telah menjadi tradisi tahunan tersebut berlangsung meriah dan dihadiri unsur Forkopimcam, tokoh masyarakat, budayawan, serta ratusan warga yang memadati lokasi acara.

Antusiasme masyarakat tampak tinggi dalam mengikuti pagelaran wayang dengan lakon Wahyu Poncodharmo yang dibawakan oleh dalang Ki R. Dimas Suprobo, S.Sn. Usai pertunjukan wayang, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan prosesi ruwatan sebagai bagian dari tradisi sakral masyarakat setempat.

Kepala Desa Tambakrejo, Surani, dalam sambutannya menyampaikan bahwa tradisi Larung Sesaji telah dilaksanakan secara turun-temurun sejak tahun 1982. Sejak saat itu, setiap tanggal 1 Muharram atau 1 Suro, masyarakat Desa Tambakrejo secara konsisten melestarikan tradisi tersebut sebagai warisan budaya dan adat leluhur.

Berita Lainnya  9th Anniversary MC.BDG Nawawarna, Wadah Profesional MC Bandung Semakin Berkembang

“Acara Larung Sesaji sudah menjadi tradisi sejak tahun 1982. Hingga kini, setiap tanggal 1 Suro selalu kami laksanakan sebagai bentuk pelestarian adat dan budaya masyarakat Tambakrejo,” ujar Surani.

Sementara itu, Camat Wonotirto, Dany Mustafa Kamil, mengaku terkesan dapat mengikuti tradisi tersebut untuk pertama kalinya sejak menjabat sebagai camat di wilayah pesisir selatan Kabupaten Blitar.

Ia menyampaikan bahwa pengalaman mengikuti rangkaian tradisi masyarakat pesisir Tambakrejo menjadi kesan tersendiri, mengingat kegiatan budaya tersebut memiliki nilai sejarah dan kearifan lokal yang masih terjaga hingga saat ini.

Rangkaian peringatan dilanjutkan pada Kamis (18/6/2026) melalui pelaksanaan tradisi Larung Sesaji di Pantai Tambakrejo. Prosesi adat dipimpin oleh tokoh adat yang dikenal luas masyarakat setempat, Mbah Sangkrah (Raden Reksopuro), yang selama ini menjadi sesepuh sekaligus pemimpin berbagai upacara adat di Desa Tambakrejo.

Berita Lainnya  Gubernur Dedi Mulyadi Tinjau Penataan Pasar Baru Cikarang dan SGC, Tegaskan Pedagang Harus Tertib

Surani menjelaskan, tradisi tersebut merupakan kegiatan sakral yang digelar setiap satu tahun sekali tepat pada 1 Suro. Dahulu, pelaksanaannya bertepatan dengan tradisi bersih desa atau nyadran. Rangkaian kegiatan diawali dengan pagelaran wayang, kemudian keesokan harinya masyarakat melakukan kirab menuju Pantai Tambakrejo sambil membawa tumpeng dan sesaji.

Menurutnya, tradisi itu merupakan warisan adat yang diwariskan secara turun-temurun sejak zaman kakeknya, Mustono, yang berasal dari Mataram. Tradisi tersebut terus dijaga sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai budaya yang telah hidup di tengah masyarakat.

Dalam prosesi Larung Sesaji, terlebih dahulu dilakukan penyembelihan kambing kendit. Kepala kambing, jeroan, sebagian daging, serta darah yang tidak dimasak digunakan sebagai bagian dari sesaji sesuai tata cara adat yang diwariskan leluhur.

Berita Lainnya  Hj. Wardatul Asriah, MBA Anggota MPR RI Fraksi Partai Gerindra Sosialisasikan Empat Pilar Kebangsaan di Saung Naga Hitam

Selain itu, terdapat dua jenis buceng yang disiapkan dalam prosesi tersebut, yakni Buceng Emas yang dipersembahkan sebagai bagian dari tradisi adat untuk ngawuri Mbok Ratu Mas, serta Buceng Kuat yang menjadi simbol ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan berkah, keselamatan, kesehatan, dan kemakmuran bagi masyarakat Desa Tambakrejo.

Surani berharap tradisi tersebut tidak hanya menjadi bentuk pelestarian budaya, tetapi juga menjadi doa bersama bagi seluruh masyarakat Desa Tambakrejo.

“Sebagai pelindung masyarakat, harapan kami masyarakat selalu hidup damai, sejahtera, serta segala cita-cita dan harapan masyarakat dapat terwujud,” tuturnya. (met/ric)

Bagikan Artikel