KARANGBAHAGIA, KABUPATEN BEKASI || LINGKARAKTUAL.COM || — Kondisi lingkungan SMP Negeri 3 Karangbahagia menjadi sorotan setelah awak media melakukan kunjungan untuk melihat kondisi fasilitas sekolah sekaligus melakukan konfirmasi mengenai sejumlah persoalan yang menjadi perhatian publik.
Saat berada di lingkungan sekolah, kondisi halaman terlihat kurang terawat. Sejumlah bagian halaman tampak dipenuhi tumbuhan liar dan semak-semak.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap kenyamanan serta keselamatan para siswa, mengingat lingkungan yang kurang terawat berpotensi menjadi tempat persembunyian berbagai jenis hewan, termasuk ular.

Potensi tersebut patut menjadi perhatian serius pihak sekolah. Terlebih apabila terdapat ular berbisa yang masuk ke lingkungan sekolah, tentunya dapat membahayakan keselamatan siswa, guru, maupun warga sekolah lainnya.
Meski demikian, hingga berita ini ditulis, belum diperoleh keterangan resmi mengenai adanya siswa yang menjadi korban serangan ular berbisa di sekolah tersebut.

Awak Media Soroti Sikap Oknum Guru
Dalam kunjungan tersebut, awak media juga hendak melihat kondisi toilet sekolah yang disebut sudah tidak layak. Namun, dalam proses menunjukkan lokasi toilet, oknum guru berinisial Bagus (BG) diduga sempat menarik-narik awak media.
Sikap tersebut dinilai kurang etis dan tidak mencerminkan komunikasi yang baik antara pihak sekolah dengan insan pers yang sedang menjalankan tugas jurnalistik.
Selain melihat kondisi fasilitas sekolah, awak media juga bermaksud melakukan konfirmasi mengenai informasi biaya seragam sebesar Rp450 ribu dan biaya atribut sebesar Rp85 ribu yang disebut dibebankan kepada wali murid.
Bagus mengatakan bahwa pungutan biaya seragam tersebut yang di bebankan kepada wali murid itu dari pihak komite bukan dari sekolah,
“Ya, biaya pungutan seragam, biaya LKS, dan biaya atribut itu semua dari kepuisa komite, bukan dari sekolah.” Ujarnya bagus.
Konfirmasi tersebut diperlukan untuk mengetahui dasar pengenaan biaya, mekanisme penetapan, serta pihak yang menetapkan dan mengelola pembayaran tersebut.

Seragam dan Atribut Oknum Guru Turut Dipertanyakan
Selain persoalan fasilitas sekolah, penampilan oknum guru berinisial Bagus saat awak media melakukan kunjungan juga menjadi perhatian.
Oknum guru tersebut disebut mengenakan pakaian dinas yang menurut pengamatan awak media tidak dilengkapi atribut secara lengkap, termasuk logo/atribut yang semestinya digunakan sesuai ketentuan yang berlaku.
Secara umum, ketentuan pakaian dinas bagi aparatur pemerintah mengatur penggunaan pakaian berdasarkan hari dan kegiatan, dengan pelaksanaannya dapat disesuaikan dengan ketentuan pemerintah daerah maupun instansi masing-masing.
Di antaranya, penggunaan PDH warna khaki lengkap dengan atribut resmi, pakaian putih dengan bawahan warna gelap, pakaian batik/tenun/lurik atau pakaian khas daerah, serta pakaian Korpri pada hari atau kegiatan tertentu sesuai ketentuan.
Namun demikian, LingkarAktual.com belum menyimpulkan bahwa penggunaan seragam tanpa atribut lengkap tersebut merupakan pelanggaran terhadap peraturan tertentu.
Hal tersebut masih memerlukan verifikasi mengenai status kepegawaian yang bersangkutan serta aturan pakaian dinas yang secara spesifik berlaku bagi tenaga pendidik di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bekasi.
Tidak Ditemukan Buku Tamu Saat Kunjungan
Hal lain yang turut menjadi perhatian adalah tidak ditemukannya buku tamu saat awak media melakukan kunjungan ke sekolah.
Buku tamu pada dasarnya dapat menjadi salah satu bagian dari administrasi penerimaan kunjungan. Karena itu, keberadaan maupun mekanisme pencatatan tamu di sekolah perlu diklarifikasi kepada pihak sekolah, termasuk apakah pencatatan tamu dilakukan secara manual, digital, atau melalui mekanisme lain.
Sekolah Akui Kekurangan Tenaga Kebersihan dan Guru
Sementara itu, Bagus selaku Humas SMPN 3 Karangbahagia memberikan penjelasan terkait keterbatasan tenaga di lingkungan sekolah.
Menurut Bagus, pihak sekolah telah mengajukan permohonan penambahan tenaga kebersihan serta tenaga pengajar (guru) kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi.
“Sekolah kami sudah mengajukan tenaga kebersihan dan untuk penambahan tenaga pengajar (guru) ke Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi. Tetapi sampai saat ini, sudah lebih dari tiga tahun belum ada respons,” ujar Bagus.
Pernyataan tersebut menjadi penjelasan pihak sekolah mengenai keterbatasan sumber daya manusia yang menurutnya turut berpengaruh terhadap pengelolaan lingkungan sekolah maupun kegiatan belajar mengajar.
Meski demikian, persoalan kebersihan dan keselamatan siswa tetap menjadi hal yang perlu mendapat perhatian. Lingkungan sekolah yang dipenuhi tumbuhan liar semestinya mendapatkan penanganan agar potensi risiko terhadap warga sekolah dapat diminimalkan.
Sekolah Diminta Terbuka
Berbagai temuan tersebut tentunya masih membutuhkan penjelasan dari pihak sekolah dan instansi terkait. Termasuk mengenai kondisi toilet, kebersihan lingkungan, penggunaan atribut seragam, administrasi buku tamu, serta informasi biaya seragam dan atribut yang disebut dibebankan kepada wali murid.
LingkarAktual.com memberikan ruang hak jawab dan klarifikasi kepada Kepala SMPN 3 Karangbahagia, Bagus, maupun Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi untuk memberikan penjelasan secara terbuka mengenai persoalan tersebut.
Pemberitaan ini disusun sebagai bagian dari fungsi kontrol sosial dan upaya memperoleh informasi yang berimbang. Redaksi tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah, verifikasi, keberimbangan, serta hak jawab bagi pihak yang diberitakan.
LingkarAktual.com akan terus melakukan konfirmasi dan pendalaman terhadap persoalan tersebut.
(Yakub_Singa)











