BANDUNG, JAWA BARAT || LINGKARAKTUAL.COM || – Di balik gemerlap lampu panggung dan seremonial megah berbiaya besar yang kerap digelar oleh Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Bandung, jutaan asa anak muda dan kepala keluarga hancur perlahan di ruang tunggu tak berujung. Hari ini, Aliansi Aktivis Anak Bangsa bersama elemen mahasiswa bergerak ke jalan untuk membawa satu pesan krusial: Hentikan kebohongan publik dan manipulasi data di atas penderitaan rakyat!
Di tengah angka pengangguran yang kian mencekik leher, masyarakat terus disuguhi narasi manis tentang puluhan ribu serapan tenaga kerja melalui program bursa kerja (Job Fair). Namun, fakta di lapangan berbicara sebaliknya. Berdasarkan rilis resmi Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pekerja formal di Kota Bandung justru mengalami penyusutan.
Kesenjangan data ini memicu pertanyaan besar: ke mana perginya puluhan ribu jiwa yang diklaim telah bekerja itu? Atau, apakah mereka semua hanya dijadikan angka di atas kertas demi memenuhi target seremonial instansi?
Di balik angka-angka statistik yang diperdebatkan, ada realita emosional yang menyayat hati.
Kita sedang berbicara tentang seorang ayah yang pulang dengan tangan hampa setelah mengantre berjam-jam di bawah terik matahari demi selembar formulir lowongan kerja. Kita sedang berbicara tentang air mata seorang ibu yang menyaksikan ijazah anaknya hanya menumpuk menjadi rongsokan kertas tak berguna.
Bagi pemerintah, ini mungkin hanya soal pemenuhan laporan anggaran APBD. Namun bagi kami, ini adalah soal urusan isi piring di meja makan dan harga diri seorang manusia yang ingin bertahan hidup. Program penunjang seperti Padat Karya pun terkesan hanya menjadi pelipur lara sesaat tanpa arah yang jelas, membiarkan masyarakat kembali terpuruk dalam ketidakpastian setelah proyek fisik selesai.
“Kami tidak butuh festival seremonial yang hanya menguntungkan penyedia jasa acara (Event Organizer). Kami tidak butuh angka klaim serapan yang manipulatif. Yang rakyat butuhkan adalah kepastian kerja riil, transparansi anggaran, dan pembelaan nyata saat hak-hak buruh dikebiri,” tegas Dena Hadiyat, Sekretaris Jenderal Aktivis Anak Bangsa.
Melalui aksi moral ini, Aktivis Anak Bangsa secara tegas menuntut 5 poin reformasi kepada Disnaker Kota Bandung:
1. Buka Data Riil Serapan Kerja (Conversion Rate): Publikasikan jumlah riil pencari kerja yang benar-benar menandatangani kontrak kerja hasil Job Fair, bukan sekadar jumlah lowongan yang terdaftar.
2. Transparansi Anggaran Program: Buka dokumen DPA, RAB, dan LPJ pelaksanaan bursa kerja dan Padat Karya tahun anggaran 2025–2026 untuk menghentikan pemborosan APBD.
3. Evaluasi dan Reformasi Padat Karya: Buat blueprint pembinaan berkelanjutan (seperti inkubasi UMKM) agar peserta tidak kembali menganggur.
4. Sikap Proaktif dalam Sengketa Buruh: Mendesak Disnaker Kota Bandung untuk progresif melakukan mediasi dan berani menerbitkan anjuran tertulis tanpa melempar tanggung jawab ke tingkat Provinsi.
5. Penandatanganan Pakta Integritas Kinerja: Mewujudkan tata kelola birokrasi yang bersih, akuntabel, dan bebas dari KKN.
Penderitaan para pencari kerja bukanlah komoditas panggung politik atau bahan kosmetik birokrasi. Perjuangan ini tidak akan berhenti di sini. Jika Disnaker Kota Bandung tetap memilih bersembunyi di balik dinding pasif birokrasi, maka gelombang mosi tidak percaya dari masyarakat akan mengalir jauh lebih besar.
(Pu2t)











