BLITAR, JAWA TIMUR || LINGKARAKTUAL.COM || — Ribuan warga dari berbagai wilayah di Kabupaten Blitar memadati halaman depan Kantor Pemerintah Kabupaten Blitar di Kecamatan Kanigoro, Senin, 1 Juni 2026. Mereka rela mengantre sejak pukul 08.00 WIB untuk mendapatkan telur gratis yang dibagikan oleh para peternak ayam petelur rakyat.
Di balik antusiasme masyarakat yang membawa pulang telur tanpa biaya, tersimpan kegelisahan mendalam dari para peternak. Pembagian sekitar satu juta butir telur tersebut bukan sekadar kegiatan sosial, melainkan bentuk protes damai terhadap anjloknya harga telur yang dinilai semakin mengancam keberlangsungan usaha peternakan rakyat.
Suasana yang sekilas menyerupai pesta rakyat itu menjadi panggung bagi ratusan peternak untuk menyuarakan keresahan mereka. Harga telur yang saat ini berada di kisaran Rp21 ribu per kilogram disebut sudah tidak mampu menutup biaya produksi yang terus meningkat.

Sementara itu, harga berbagai kebutuhan pakan ternak seperti jagung, konsentrat, dan bahan baku lainnya terus mengalami kenaikan. Kondisi tersebut membuat banyak peternak harus menanggung kerugian hampir setiap hari.
“Kami tidak meminta belas kasihan. Kami hanya meminta keadilan agar peternak rakyat bisa tetap hidup dan terus berproduksi,” seru salah satu orator yang disambut tepuk tangan peserta aksi.
Bagi Kabupaten Blitar, persoalan tersebut bukan sekadar tentang harga telur. Selama bertahun-tahun, daerah ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi telur terbesar di Indonesia yang berkontribusi besar dalam memenuhi kebutuhan protein masyarakat.
Namun, ketika harga telur terus melemah sementara biaya produksi melonjak, para peternak menilai perlindungan terhadap usaha rakyat masih belum memadai.
Suyanto, salah seorang peternak mikro kecil, mengaku situasi saat ini menjadi ujian terberat yang dihadapi banyak peternak rakyat.
Menurutnya, pendapatan yang diperoleh tidak lagi sebanding dengan biaya operasional kandang yang harus dikeluarkan setiap hari.
“Banyak peternak kecil mulai kesulitan bertahan. Kalau kondisi seperti ini terus berlangsung, bukan tidak mungkin banyak yang berhenti beternak,” ujarnya.
Ia menjelaskan, harga pakan ternak saat ini telah mencapai sekitar Rp420 ribu per sak. Padahal sebelumnya harga masih berada di kisaran Rp370 ribu per sak. Kenaikan tersebut membuat margin keuntungan peternak semakin menipis, bahkan tidak sedikit yang mengaku mengalami kerugian.
Selain persoalan harga telur, para peternak juga menyoroti rencana masuknya investor asing ke sektor peternakan nasional. Mereka khawatir kehadiran pemodal besar akan memperberat persaingan bagi peternak rakyat yang memiliki keterbatasan modal.
“Bahkan ada wacana investor asing masuk ke sektor peternakan. Ini menjadi ancaman bagi peternak kecil. Kabarnya investor itu sudah ada di Indonesia. Kalau peternak besar masih punya cadangan dana, sementara peternak kecil seperti kami tidak punya cadangan untuk bertahan,” kata Suyanto.
Aspirasi para peternak mendapat respons langsung dari Bupati Blitar Rijanto dan Wakil Bupati Blitar Beky Hardiansah yang menemui massa aksi di depan Kantor Bupati.
Dalam dialog terbuka tersebut, Rijanto mengakui harga telur di angka Rp21 ribu per kilogram merupakan kondisi yang memprihatinkan dan berpotensi mengancam keberlangsungan usaha peternak rakyat apabila berlangsung dalam waktu lama.
Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Blitar tengah menyiapkan sejumlah langkah untuk membantu menyerap produksi telur peternak.
Salah satu opsi yang disiapkan adalah memperluas penyerapan telur melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Selain itu, pemerintah daerah juga akan mendorong pemanfaatan jaringan Koperasi Merah Putih sebagai jalur distribusi dan pemasaran agar hasil produksi peternak memiliki akses pasar yang lebih luas serta membantu menjaga stabilitas harga.
“Kami akan mencari solusi bersama agar peternak rakyat tetap bisa bertahan. Salah satunya melalui penyerapan telur untuk kebutuhan SPPG dan pemasaran melalui Koperasi Merah Putih,” kata Rijanto.
Aksi yang berlangsung tertib tersebut mendapat pengawalan aparat keamanan. Pembagian satu juta butir telur yang akhirnya dimulai pukul 10.30 WIB menjadi simbol ironi yang tengah dirasakan peternak rakyat Blitar.
Di satu sisi mereka berbagi kepada masyarakat, namun di sisi lain mereka sedang berjuang mempertahankan usaha yang menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga peternak.
Melalui aksi tersebut, para peternak berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat segera mengambil langkah nyata untuk menjaga stabilitas harga telur, menekan beban biaya produksi, serta memberikan perlindungan yang lebih kuat terhadap keberlangsungan usaha peternakan rakyat.
Sebagai salah satu daerah penghasil telur terbesar di Indonesia, Kabupaten Blitar memiliki ribuan peternak yang menggantungkan hidup pada sektor ini. Karena itu, mereka berharap perhatian dan kebijakan yang berpihak dapat memastikan usaha peternakan rakyat tetap bertahan di tengah tekanan biaya produksi yang terus meningkat dan fluktuasi harga pasar yang belum kunjung membaik. (ric)











