Beranda News Mati Lampu Berjam-jam di Perkemahan Cabangbungin, Panitia ke Mana? DPD IWO Indonesia...

Mati Lampu Berjam-jam di Perkemahan Cabangbungin, Panitia ke Mana? DPD IWO Indonesia Kabupaten Bekasi Soroti Kesiapan Penyelenggara

KABUPATEN BEKASI, JAWA BARAT || LINGKARAKTUAL.COM || – 21 Agustus 2026 — Persoalan mati lampu di tengah kegiatan kemah di Desa Lenggahjaya, Kecamatan Cabangbungin, Kabupaten Bekasi, memantik sorotan tajam dari DPD Ikatan Wartawan Online (IWO) Indonesia Kabupaten Bekasi.

Pasalnya, gangguan listrik yang terjadi di area tenda peserta disebut berlangsung selama beberapa jam. Ironisnya, kondisi tersebut terjadi pada malam hari ketika penerangan menjadi kebutuhan dasar sekaligus berkaitan langsung dengan kenyamanan dan keselamatan peserta.

Pertanyaannya sederhana: ke mana panitia ketika peserta membutuhkan penerangan?

Ketua DPD IWO Indonesia Kabupaten Bekasi, Afif, menilai lambannya penanganan persoalan tersebut menunjukkan adanya persoalan serius dalam kesiapan penyelenggara kegiatan.

“Kami sangat menyayangkan sikap lambat tanggap dari panitia pelaksana. Masalah mati lampu di area tenda adalah hal mendasar yang harus segera ditangani, bukan dibiarkan berlarut-larut,” tegas Afif.

Berita Lainnya  ​Peringati HUT ke-81 RI, Pemkab dan DPRD Purwakarta Simak Bersama Pidato Kenegaraan Presiden Paparkan Realisasi Investasi Tembus Rp 1.010 Triliun

Sorotan semakin menguat setelah DPD IWO Indonesia Kabupaten Bekasi mendatangi panitia untuk meminta penjelasan. Namun, panitia disebut tidak berada di tempat.

Kondisi tersebut kemudian dikonfirmasi kepada Ketua Kwaran Kecamatan Cabangbungin, H. Tamrin, melalui WhatsApp.

“Waalaikum salam. Sedang disikapi dengan pembelian kekurangan kabel,” jawab H. Tamrin.

Jawaban tersebut justru menimbulkan pertanyaan baru: mengapa kebutuhan kabel dan kelistrikan baru ditangani setelah persoalan terjadi, sementara kegiatan kemah telah berlangsung dan peserta sudah berada di lokasi?

Apalagi, menurut Ketua DPD IWO Indonesia Kabupaten Bekasi, peserta dikenakan biaya yang tidak sedikit. Untuk peserta tingkat SD disebut dikenakan Rp500.000 per pangkalan/gudep, sedangkan peserta tingkat SMP sebesar Rp700.000 per pangkalan/gudep.

Berita Lainnya  Presiden Prabowo Dijadwalkan Kunjungi Cikarang, Peluncuran Motor Listrik Nasional Jadi Momentum Strategis

Dengan adanya pungutan biaya tersebut, DPD IWO Indonesia Kabupaten Bekasi mempertanyakan sejauh mana kesiapan fasilitas yang disediakan panitia.

“Panitia meminta anggaran peserta tingkat SD sebesar Rp500.000 per pangkalan gudep dan peserta tingkat SMP sebesar Rp700.000 per pangkalan gudep. Masalah penerangan seharusnya sudah menjadi bagian dari kesiapan kegiatan, bukan baru dipikirkan setelah peserta mengalami mati lampu,” ujar Afif.

Ini bukan sekadar soal lampu padam. Ini soal kesiapan panitia dan tanggung jawab terhadap peserta.

Area kemah yang gelap pada malam hari berpotensi mengganggu aktivitas peserta dan meningkatkan risiko terjadinya insiden yang tidak diinginkan. Karena itu, DPD IWO Indonesia Kabupaten Bekasi mendesak panitia segera menyelesaikan persoalan kelistrikan dan mengevaluasi seluruh fasilitas kegiatan.

Berita Lainnya  Ragu Verifikasi Soal Ijazah, Panitia Pilkades Tingkat Desa Dan Kabupaten Bekasi Diminta Gandeng APH

Afif juga meminta pihak penyelenggara tidak menganggap persoalan tersebut sebagai masalah sepele.

“Kalau untuk penerangan saja penanganannya lambat, bagaimana dengan persoalan lain yang membutuhkan respons cepat? Jangan sampai menunggu terjadi sesuatu yang lebih serius baru kemudian panitia bergerak,” tegasnya.

DPD IWO Indonesia Kabupaten Bekasi meminta panitia dan pihak terkait lebih terbuka mengenai kesiapan fasilitas serta penggunaan anggaran kegiatan.

Peserta datang untuk mengikuti kegiatan dengan aman dan nyaman. Mereka bukan datang untuk menghadapi fasilitas yang belum siap.

Kini publik patut menunggu: apakah panitia akan memberikan penjelasan terbuka mengenai persoalan listrik tersebut, termasuk kesiapan fasilitas dan penggunaan anggaran kegiatan?

(Red)

Bagikan Artikel