BLITAR, JAWA TIMUR || LINGKARAKTUAL.COM || — Penguatan pertanian modern menjadi salah satu strategi meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga ketahanan pangan di Kabupaten Blitar. Hal itu mengemuka dalam Sosialisasi Pendidikan Pertanian Modern untuk Menunjang Ketahanan Pangan Nasional di Feeling Cafe, Talun, Blitar, Rabu (23/9/2026).
Kegiatan menghadirkan Guntur Wahono, S.E., Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Fraksi PDI Perjuangan, Kepala DKPP Kabupaten Blitar Ir. Setiyana, Kabid DKPP Siswoyo, Wakil Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Blitar Suwito, Ketua Gapoktan Kabupaten Blitar Maskuri, serta perwakilan Gapoktan kecamatan dan desa.
Ir. Setiyana menekankan pentingnya pertanian modern yang tetap memperhatikan keseimbangan alam. Menurutnya, penggunaan pupuk secara berlebihan demi mengejar produksi dapat berdampak pada kerusakan tanah.
“Dunia pertanian tidak lepas dari keseimbangan alam. Hari ini petani mengejar hasil dengan penggunaan pupuk yang ekstrem, namun pada akhirnya akan meninggalkan warisan tanah yang rusak dan tandus,” ujarnya.
Sementara itu, Siswoyo menjelaskan pengembangan padi melalui Pertanian Modern–Advance Agriculture System (PM-AAS). Kabupaten Blitar menargetkan penerapan model tersebut seluas 5.932 hektare pada Agustus–Desember 2026. Saat ini telah tersedia demplot seluas 4 hektare.
Bantuan benih, pupuk, pestisida, herbisida dan alsintan diprioritaskan bagi kelompok tani yang menerapkan PM-AAS. Siswoyo pun menyerukan target produktivitas dengan slogan “Salam 10 Ton!”
Petani Soroti Air, Alsintan dan Pasar Organik
Ketua Gapoktan Kabupaten Blitar, Maskuri, menyampaikan sejumlah persoalan yang dihadapi petani, terutama dampak kemarau dan fenomena El Nino yang menyebabkan debit air menurun drastis.
Petani membutuhkan dukungan pompa dan jaringan irigasi di wilayah utara, serta sumur bor/irpom di wilayah selatan. Reboisasi kawasan sumber air juga dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan ketersediaan air.
Sementara itu, Guntur Wahono menyoroti kendala pemasaran produk pertanian organik. Menurutnya, minat petani untuk beralih ke pertanian organik cukup besar, tetapi harga produknya masih mengikuti pasar konvensional.
Ia mendorong pemerintah ikut membantu pemasaran agar petani memperoleh nilai ekonomi yang lebih layak.
“Kalau pemerintah tidak ikut campur tangan dalam membeli atau membantu memasarkan produk organik, petani akan merugi,” kata Guntur.
Untuk kebutuhan alsintan, Guntur menyebut petani di dapil 7, meliputi Blitar dan Tulungagung, masih membutuhkan dukungan. Kebutuhan tersebut akan diinventarisasi Gapoktan dan disesuaikan dengan kemampuan APBD Provinsi Jawa Timur.
Dalam kegiatan tersebut juga muncul usulan bantuan sekitar Rp2,5 miliar bagi Gapoktan yang akan diajukan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk tahun anggaran 2027.
Penguatan pertanian modern di Blitar diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga menjaga kesuburan tanah, menjawab persoalan air, memperkuat mekanisasi, membuka pasar produk organik, serta meningkatkan kesejahteraan petani.
.(Red)











