BANDUNG, JAWA BARAT || LINGKARAKTUAL.COM || —2/10/2026 Kearifan budaya lokal Sunda ternyata dapat menjadi media efektif dalam menyampaikan edukasi kesehatan kepada remaja. Hal itu ditunjukkan melalui penelitian yang menguji penggunaan video edukasi berbasis budaya “Sawer Pengantin” untuk meningkatkan pengetahuan siswa mengenai HIV-AIDS di SMPN 26 Kota Bandung.
Penelitian berjudul “Integrasi Budaya Lokal dalam Promosi Kesehatan: Efektivitas Video Edukasi ‘Sawer Pengantin’ terhadap Peningkatan Pengetahuan HIV-AIDS pada Remaja” tersebut dilakukan oleh Tati Ruhmawati, Ridwan Setiawan dari Poltekkes Kemenkes Bandung serta M. Aris Rizqi dari Poltekkes Kemenkes Semarang.
Penelitian ini berangkat dari tantangan pencapaian target ketiga Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya upaya mengakhiri epidemi HIV-AIDS pada 2030. Remaja dan dewasa muda menjadi salah satu kelompok penting dalam upaya pencegahan karena masih ditemukan berbagai kesenjangan pengetahuan, miskonsepsi, serta stigma terhadap Orang dengan HIV (ODHIV).

Di tingkat sekolah, persoalan tersebut antara lain terlihat dari masih adanya anggapan keliru mengenai cara penularan HIV. Sebagian siswa masih mengaitkan penularan HIV dengan kontak sosial sehari-hari seperti berjabat tangan, berenang bersama, bahkan gigitan nyamuk.
Kondisi tersebut mendorong perlunya metode edukasi yang tidak hanya menyampaikan informasi medis, tetapi juga mampu menjangkau karakter dan lingkungan sosial budaya remaja.
Dalam penelitian ini, budaya Sunda Sawer Pengantin diadaptasi menjadi media audio-visual edukatif. Pesan mengenai HIV-AIDS, pencegahan, kesehatan reproduksi, serta penghapusan stigma dikemas melalui lirik dan narasi yang dekat dengan kehidupan serta budaya peserta didik.

Pengetahuan Siswa Meningkat 38,71 Poin
Penelitian melibatkan 31 siswa kelas VIII SMPN 26 Kota Bandung. Pengukuran dilakukan melalui pretest sebelum intervensi dan posttest setelah siswa mendapatkan edukasi menggunakan video “Sawer Pengantin HIV-AIDS”, yang dilanjutkan dengan diskusi interaktif.
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang sangat signifikan.
Rata-rata skor pengetahuan siswa sebelum intervensi tercatat 56,45, dengan standar deviasi 23,32. Setelah diberikan intervensi, rata-rata skor meningkat menjadi 95,16, dengan standar deviasi 10,92.
Dengan demikian, terdapat peningkatan rata-rata sebesar 38,71 poin.
Analisis menggunakan Paired Sample t-test menghasilkan nilai t hitung 8,531 dengan derajat kebebasan (df) 30 dan p-value 1,6×10⁻⁹ (p<0,05). Rentang kepercayaan 95 persen tercatat pada 29,44–47,98.
Hasil tersebut menunjukkan adanya perbedaan pengetahuan yang signifikan antara sebelum dan sesudah intervensi edukasi.
Luruskan Miskonsepsi tentang Penularan HIV
Salah satu temuan penting penelitian adalah perubahan pemahaman siswa mengenai jalur penularan HIV.
Melalui materi yang disampaikan dalam video, siswa diarahkan untuk membedakan perilaku yang berisiko dengan aktivitas sosial sehari-hari yang tidak menyebabkan penularan HIV.
Setelah intervensi, siswa lebih mampu memahami bahwa HIV dapat menular melalui aktivitas berisiko tertentu, seperti hubungan seksual berisiko, penggunaan jarum suntik secara bergantian, serta transfusi darah yang tidak aman.
Sebaliknya, kontak sosial biasa seperti berjabat tangan atau beraktivitas bersama tidak menjadi jalur penularan HIV.
Pengetahuan mengenai langkah penanganan juga meningkat. Siswa diarahkan untuk mencari pemeriksaan dan informasi yang benar melalui fasilitas pelayanan kesehatan apabila memiliki kekhawatiran atau menemukan kondisi yang membutuhkan pemeriksaan medis.
Budaya Lokal Jadi Jembatan Edukasi
Penggunaan Sawer Pengantin dalam edukasi kesehatan dinilai memberikan pendekatan yang lebih kontekstual bagi remaja di lingkungan budaya Sunda.
Tradisi sawer yang selama ini dikenal sebagai bagian dari rangkaian adat perkawinan dan sarat dengan nasihat kehidupan dimanfaatkan sebagai medium untuk menyampaikan pesan mengenai kesehatan reproduksi, pencegahan perilaku berisiko, serta pentingnya menghindari stigma terhadap ODHIV.
Pendekatan tersebut juga sejalan dengan konsep pembelajaran multimedia yang menggabungkan unsur visual dan auditori untuk membantu peserta didik memahami informasi.
Selain itu, unsur budaya lokal dapat meningkatkan perhatian dan relevansi materi karena pesan kesehatan disampaikan melalui medium yang lebih dekat dengan kehidupan sosial peserta didik.
Penelitian tersebut juga menggunakan pendekatan culturally tailored health intervention, yakni menyesuaikan komunikasi kesehatan dengan konteks budaya masyarakat sasaran.
Tidak Berhenti pada Penelitian
Program edukasi ini dirancang tidak berhenti setelah pelaksanaan penelitian. Salah satu strategi keberlanjutannya adalah institusionalisasi media edukasi di lingkungan sekolah.
Video edukasi “Sawer Pengantin” disebut telah memperoleh Sertifikat Hak Cipta Karya Rekaman Video dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum RI dengan Nomor Pencatatan 001303563.
Media digital beserta buku panduan pencegahan kemudian diserahterimakan kepada perpustakaan dan Unit Kesehatan Sekolah (UKS) SMPN 26 Kota Bandung sebagai bahan pembelajaran.
Materi tersebut juga diarahkan untuk diintegrasikan dalam pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK), khususnya materi kesehatan reproduksi remaja.
Selain itu, media edukasi dapat dimanfaatkan dalam kegiatan ekstrakurikuler seperti Palang Merah Remaja (PMR) dan Pramuka.
Strategi lain yang disiapkan adalah pembentukan Peer Educator atau pendidik sebaya. Siswa yang telah memperoleh edukasi dan memiliki capaian pengetahuan tinggi diarahkan menjadi kader yang dapat membantu menyebarkan informasi HIV-AIDS secara benar kepada teman sebaya.
Dengan pendekatan tersebut, siswa tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga dapat berperan sebagai agen perubahan di lingkungan sekolah.
Model Edukasi Berbasis Budaya Berpotensi Direplikasi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan budaya lokal dapat menjadi salah satu alternatif dalam menyampaikan edukasi kesehatan kepada remaja.
Penggabungan seni tradisional, media audio-visual, diskusi interaktif, serta pembentukan pendidik sebaya membuat intervensi tidak hanya berorientasi pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga diarahkan untuk membangun lingkungan sekolah yang lebih terbuka terhadap informasi HIV-AIDS dan mengurangi stigma.
Para peneliti menyimpulkan bahwa media video edukasi berbasis budaya “Sawer Pengantin” menunjukkan efektivitas yang signifikan dalam meningkatkan pengetahuan siswa SMPN 26 Kota Bandung mengenai HIV-AIDS.
Model tersebut juga memiliki unsur keberlanjutan melalui integrasi dengan kegiatan sekolah, kepemilikan hak cipta media, pemanfaatan UKS dan ekstrakurikuler, serta pembentukan kader pendidik sebaya.
Pendekatan berbasis kearifan lokal tersebut selanjutnya berpotensi dikembangkan dan disesuaikan dengan karakter budaya daerah lain dalam upaya memperkuat promosi kesehatan remaja dan pencegahan HIV-AIDS.











