KAB.PURWAKARTA, JAWA BARAT || LINGKARAKTUAL.COM || – Diduga akibat keterbatasan ruang belajar dengan penambahan kuota siswa didalam kelas tahun 2026 ini, Pihak sekolah terpaksa mengatur waktu mengajar para guru diruang kelas belajar (RKB)
SMAS PGRI 3 Purwakarta juga salah satu sekolah swasta yang ada di wilayah kabupaten Purwakarta yang memiliki siswa hanya sebanyak 198 siswa dari putra dan putri.
Menurut kepala sekolah Swasta PGRI 3 Purwakarta, Asep Ridwansyah, SE mengatakan, bahwa Sekolah yang ia pimpin ini sekarang dan untuk kedepanya harus banyak renovasi 20.ruang kelas dan ruang kepala sekolah dan ruang guru, pada hari Kamis (6/6/2026).
Ia menambahkan bahwa
* SMA Swasta PGRI 3 Purwakarta ini di tunjuk jadi *”Sekolahan MAUNG (Manusia Unggul)”* ini termasuk dalam program Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi,
* SMA 1 Purwakarta, Maung dan
* SMK Purwakarta, Maung.

Saya pun menjabat jadi kepala sekolah ini baru 1 tahun dan itu juga saya di kirim dari Yayasan Pembinaan Lembaga Pendidikan PGRI dan dari setiap kabupaten, provinsi itu ada perwakilan sampai ke tingkat pusatpun juga ada dan keluhan saya ini,
* Pertama: Sarana dan Prasarana di SMA Swasta PGRI 3 Purwakarta ini banyak yang tidak layak di pakai,(Bangunan untuk pendidikan dan pembelajaran siswa dan saya kwatir membahayakan siswa)
* Bangunan yang membahayakan itu ada sekitar 20.lokal ruang kelas,
* Ruang perpustakaan, ruang LAB IPA itu tidak layak yang harus di perbaiki.
Dengan jumlah siswa yang baru mendaftar dari program spmb 2026~2027 itu 54.putra dan putri itu akan di bagi menjadi 2.ruang kelas dan bilamana kita beracuan kepada sarana dan prasarana itu tidak memadai dan untuk ruang kelas, 11/kelas.2 & kelas 12/kelas.3 harus tetap belajar.
Tapi sangatvdisayangkan bangunan tidak layak pakai dan jumlah keseluruhan itu ada 198.siswa putra dan putri, Padahal pihak guru disekolah ini telah berusaha memberikan yang terbaik buat mutu pendidikan di SMA Swasta PGRI 3 Purwakarta yang beralamat, Gang.Beringin, Jln. Veteran, Kec.Purwakarta Kota.
Jadi saya mohon semua dan siapapun harus bisa membantu dunia pendidikan dan sarana, prasarana dan rehabilitasi “Kami sangat mengharapkan bantuan dari pemerintah Pusat dan pemerintah Provinsi Jawa Barat begitun juga dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Baratnya,
(D.Fer – Red)











