AMBON, MALUKU, LINGKARAKTUAL.COM – Di tengah riuhnya denyut nadi ekonomi rakyat di Pasar Mardika, sebuah langkah tak biasa diambil oleh Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Provinsi Maluku, Jais Ely. Bukan sekadar kunjungan seremonial atau inspeksi sesaat, ia memilih berkantor langsung di jantung aktivitas perdagangan rakyat, sebuah keputusan yang sarat makna, pesan, dan tanggung jawab sosial.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Dalam beberapa waktu terakhir, publik dihebohkan oleh maraknya kasus pencurian yang menimpa para pedagang, terutama mereka yang beraktivitas secara informal atau yang kerap disebut “pedagang ilegal”. Isu ini viral di media sosial, memantik amarah, simpati, sekaligus kegelisahan kolektif masyarakat.
Namun, di balik narasi “ilegal” ada realitas yang lebih kompleks: rakyat kecil yang berjuang bertahan hidup di tengah tekanan ekonomi.
Turun ke Akar Masalah, Bukan Sekadar Retorika
Keputusan Jais Ely untuk berkantor di Pasar Mardika menjadi simbol perubahan pendekatan birokrasi dari yang kaku dan berjarak, menjadi hadir, mendengar, dan merasakan langsung denyut persoalan masyarakat.
Di lorong-lorong pasar yang padat, di antara teriakan penjual dan tawar-menawar pembeli, kini hadir seorang pejabat yang tidak hanya membawa kebijakan, tetapi juga empati dan keterlibatan nyata.
Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak menutup mata terhadap persoalan yang dihadapi pedagang. Justru sebaliknya, ini adalah bentuk komitmen bahwa negara hadir di tengah rakyatnya, bukan di balik meja kantor semata.
Pedagang Bukan Sekadar Angka Statistik
Isu pencurian yang terjadi bukan hanya soal kehilangan barang. Lebih dari itu, ini adalah tentang rasa aman yang terkoyak, tentang kepercayaan yang mulai luntur, dan tentang ketimpangan perlindungan bagi pelaku ekonomi kecil.
Pedagang informal seringkali berada dalam posisi rentan tanpa perlindungan hukum yang kuat, tanpa jaminan keamanan yang memadai. Ketika mereka menjadi korban, tak jarang suara mereka tenggelam di tengah hiruk-pikuk birokrasi.
Namun kini, dengan kehadiran langsung Kepala Dinas di lapangan, ada harapan baru:
bahwa setiap keluhan didengar,
bahwa setiap keresahan dicatat,
dan bahwa setiap masalah akan ditangani dengan pendekatan yang lebih manusiawi.
Interaksi Sosial yang Menghidupkan Kepercayaan
Kehadiran Jais Ely di tengah pedagang tidak hanya membawa fungsi pengawasan, tetapi juga membuka ruang interaksi sosial yang hangat dan konstruktif.
Dialog demi dialog terbangun. Pedagang mulai berani berbicara. Keluhan yang selama ini dipendam, kini menemukan jalannya. Bahkan, tidak sedikit yang menyampaikan apresiasi atas keberanian seorang pejabat untuk turun langsung tanpa sekat.
Inilah wajah birokrasi yang diharapkan masyarakat:
bukan hanya bekerja di balik laporan, tetapi hadir dalam realitas kehidupan rakyat. Kinerja Nyata, bukan janji semata langkah berkantor di pasar Mardika juga menjadi indikator bahwa kinerja tidak selalu diukur dari angka dan laporan administratif.
Ada dimensi lain yang tak kalah penting, yaitu kedekatan dengan masyarakat dan respons cepat terhadap persoalan nyata. Dengan berada di lokasi, proses pengambilan keputusan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat. Koordinasi dengan pihak terkait, seperti pengelola pasar dan aparat keamanan, juga menjadi lebih efektif.
Ini adalah bentuk kerja nyata, kerja yang terlihat, terasa, dan berdampak langsung. Menjaga Keadilan, Menghindari Stigma, Salah satu isu sensitif dalam kasus ini adalah pelabelan “pedagang ilegal”. Label ini berpotensi menciptakan stigma dan memperlemah posisi mereka di mata hukum dan publik.
Namun pendekatan yang diambil saat ini menunjukkan arah yang lebih bijak:
– bahwa penataan harus berjalan seiring dengan perlindungan
– bahwa ketertiban tidak boleh mengorbankan kemanusiaan
– dan bahwa keadilan harus dirasakan oleh semua lapisan masyarakat.
Harapan Baru untuk Pasar Rakyat
Pasar Mardika bukan sekadar tempat transaksi ekonomi. Ia adalah simbol kehidupan, perjuangan, dan harapan masyarakat kecil. Dengan hadirnya pemerintah secara langsung, ada optimisme bahwa pasar ini akan menjadi lebih tertib, aman, dan manusiawi.
Langkah Jais Ely bisa menjadi contoh bagi pejabat lain:
bahwa untuk memahami rakyat, tidak cukup hanya membaca laporan, harus turun dan melihat sendiri. Redaksi menilai, apa yang dilakukan saat ini adalah bentuk keberanian sekaligus tanggung jawab moral seorang pemimpin. Di tengah kritik dan tekanan publik, memilih untuk hadir langsung di lapangan bukanlah langkah mudah.
Namun justru di situlah letak kepemimpinan sejati:
hadir saat dibutuhkan, bekerja saat diuji, dan mendengar saat rakyat bersuara. Maluku membutuhkan lebih banyak langkah nyata seperti ini, Bukan sekadar wacana, tetapi aksi, bukan sekadar janji, tetapi bukti. Dan hari ini, dari Pasar Mardika, secercah harapan itu mulai terlihat.
Penulis : E.Rahman Kalauw











